BEKASISATU, KOTA BEKASI – Anggota Komisi IV DPRD Kota Bekasi, Ahmadi, melayangkan kritik tajam terhadap Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi terkait status ‘Kota Layak Anak’ (KLA) yang disandang daerah tersebut.
Sentilan ini mencuat menyusul viralnya kasus dugaan penganiayaan dan perundungan (bullying) terhadap seorang siswa berinisial KAAZA di salah satu boarding school kawasan Rawalumbu.
Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini menegaskan, predikat KLA seharusnya tercermin nyata dari terjaminnya keamanan peserta didik, bukan sekadar pelengkap administrasi atau jargon semata.
“Kalau memang ramah anak, harus ada faktanya. Jangan hanya slogan-slogan saja. Banyak kasus bullying yang masih terjadi. Artinya, ini harus menjadi evaluasi bersama,” ujar Ahmadi dalam keterangannya, Senin (28/09/26).
Ahmadi memaparkan, maraknya kekerasan di lingkungan pendidikan membuktikan bahwa sistem perlindungan anak di Kota Bekasi masih lemah dan membutuhkan pembenahan total. Keberhasilan KLA, kata dia, mutlak diukur dari rasa aman yang dirasakan anak, baik di lingkungan sekolah maupun ruang publik.
Ia pun mendesak Pemkot Bekasi beserta dinas terkait untuk tidak bekerja secara reaktif. Langkah pencegahan yang komprehensif, pengawasan berjenjang, serta ketegasan sanksi dinilai lebih krusial dibandingkan sekadar mengeluarkan imbauan.
“Pemerintah harus benar-benar serius menyikapi persoalan ini. Harus ada kemauan, harus ada tindakan nyata. Jangan menunggu kasus menjadi besar atau viral terlebih dahulu baru bergerak,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ahmadi mengingatkan seluruh ekosistem pendidikan—mulai dari Dinas Pendidikan, pihak sekolah, hingga orang tua—untuk memperketat pengawasan. Sekolah wajib dipastikan kembali fungsinya sebagai ruang aman untuk menimba ilmu.
“Anak-anak harus mendapatkan rasa aman saat belajar. Jangan sampai ada lagi kasus yang membuat peserta didik menjadi korban kekerasan atau perundungan di lingkungan pendidikan,” tutup Ahmadi.
Sebagai informasi, kasus dugaan penganiayaan yang menimpa KAAZA ini pertama kali mencuat dan memicu kemarahan publik setelah orang tua korban membagikan kronologi kejadian di media sosial. Saat ini, insiden tersebut tengah dalam proses penyelidikan intensif oleh Dinas Pendidikan Kota Bekasi dan jajaran kepolisian setempat.













