BEKASISATU, KOTA BEKASI – Lonjakan harga bahan baku yang dipicu oleh ketidakpastian kondisi geopolitik dunia mulai mencekik para pelaku usaha percetakan di Tanah Air. Di Kota Bekasi, sentra percetakan yang berada di kawasan depan Stasiun Bekasi menjadi salah satu yang paling merasakan imbasnya.
Melambungnya biaya operasional, terutama pada harga kertas dan bahan laminating, memaksa para pengusaha merancang siasat baru agar dapur produksi tetap mengebul.
Samsuri, pemilik Samudera Printing, mengungkapkan bahwa kenaikan harga modal saat ini sangat terasa dan membebani operasional harian usahanya.
“Harga bahan baku seperti kertas dan laminating naiknya lumayan tajam dan sangat terasa. Mau tidak mau kami di sini harus memutar otak mencari strategi agar usaha tetap jalan dan tidak merugi,” ujar Samsuri ketik dihubungi, Selasa (14/04/26).
Untuk menyiasati pembengkakan biaya tersebut, penyesuaian tarif cetak kepada konsumen menjadi langkah pahit yang terpaksa diambil. Berdasarkan pantauan, rata-rata harga jasa percetakan di kawasan tersebut mengalami kenaikan di kisaran 10 hingga 20 persen.
“Contohnya untuk cetak spanduk saja. Biasanya kami patok di harga Rp16.000 per meter, sekarang karena modalnya naik, harganya terpaksa kami sesuaikan menjadi Rp17.000 hingga Rp20.000 per meter,” tambah Samsuri.
Kondisi ini menjadi tantangan berat bagi roda ekonomi lokal. Ketidakmenentuan situasi global nyatanya merambat cepat hingga ke pelaku usaha mikro dan menengah di daerah, yang kini harus berjuang lebih keras untuk sekadar mempertahankan kelangsungan bisnis mereka di tengah tekanan harga.













