Example floating
Example floating
Daerah

PLTS Atap Terbesar Di Indonesia 22,5 MW Resmi Hadir di Bekasi

Galih
×

PLTS Atap Terbesar Di Indonesia 22,5 MW Resmi Hadir di Bekasi

Sebarkan artikel ini
Foto : Proyek PLTS Atap Xurya di PT Muliaglass dan PT Muliakeramik Indahraya (doc.cam)

BEKASISATU, KABUPATEN BEKASI — Langkah nyata transisi energi di sektor industri manufaktur Indonesia kembali mencetak sejarah baru. PT Muliaglass dan PT Muliakeramik Indahraya resmi menggandeng PT Xurya Daya Indonesia (Xurya) untuk mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap berkapasitas 22,5 Megawatt (MW).

Diresmikan pada Kamis, 30 April 2026, fasilitas yang berlokasi di Komplek Mulia Industri, Cikarang, Bekasi ini dinobatkan sebagai instalasi PLTS Atap terbesar di Indonesia.

Skala proyek ini terbilang fantastis. Sebanyak 36.862 panel surya membentang di area seluas 122.783 meter persegi. Luasan tersebut setara dengan 17 kali lipat lapangan sepak bola di Gelora Bung Karno (GBK).

Direktur PT Mulia Industrindo Tbk, Ekman Tjandranegara, menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar pemenuhan tren hijau, melainkan strategi krusial bagi operasional pabrik yang berjalan nonstop 24 jam setiap harinya.

“PLTS Atap ini merupakan langkah strategis kami untuk memperkuat operasional berkelanjutan sekaligus menjaga kualitas dan kontinuitas produksi,” ujar Ekman. Ia menambahkan, kemitraan dengan Xurya memastikan instalasi skala masif ini berjalan selaras tanpa mengganggu operasional pabrik.

Dampak Lingkungan dan Efisiensi Operasional

Dari sisi lingkungan, kehadiran PLTS Atap ini memberikan dampak yang sangat signifikan. Instalasi raksasa ini diproyeksikan mampu memangkas lebih dari 26,8 juta kilogram emisi karbon dioksida (CO_{2}) setiap tahunnya. Angka tersebut diklaim setara dengan penyerapan karbon yang dilakukan oleh 198.258 batang pohon.

Selain itu, operasional pembangkit surya ini juga akan mengurangi ketergantungan industri terhadap batu bara hingga 20.000 kilogram per tahun.

Secara teknis operasional, sistem kelistrikan tenaga surya ini mampu menyuplai rata-rata 68.500 kWh listrik per hari untuk menopang kebutuhan produksi pabrik.

Managing Director Xurya, Eka Himawan, menyoroti keberhasilan integrasi sistem kelistrikan di sektor manufaktur berintensitas tinggi. “Proyek ini juga menjadi bukti nyata kapabilitas kami dalam menghadirkan solusi PLTS Atap untuk industri yang beroperasi 24/7, di mana proses instalasi berjalan beriringan dan terintegrasi tanpa mengganggu aktivitas produksi,” jelas Eka.

Mendukung Target Transisi Energi Nasional

Implementasi PLTS di kawasan industri Cikarang ini juga menjadi angin segar bagi pemerintah yang tengah mengejar target bauran energi nasional. Hingga akhir 2025, realisasi pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) tercatat baru menyentuh angka 15,75%, yang dinilai masih jauh dari target.

Sekretaris Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Harris, memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif swasta ini. “Kami mengapresiasi pencapaian PT Muliaglass dan PT Muliakeramik Indahraya dalam mengimplementasikan PLTS Atap dengan kapasitas 22,5 MW sebagai bagian penting dari transisi energi nasional,” ungkapnya.

Apresiasi senada datang dari Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri Kementerian Perindustrian, Emmy Suryandari. Ia berharap inisiatif serupa dapat segera direplikasi oleh pemain industri lainnya, mengingat kontribusi industri pengolahan yang strategis, yakni mencapai 85% terhadap total ekspor nasional. Inisiatif ini juga sejalan dengan komitmen pemerintah mencapai Net Zero Emission (NZE) di sektor industri pada tahun 2050.

Adopsi PLTS Atap secara nasional memang menunjukkan tren positif. Vice President Pengelolaan Penjualan PT PLN (Persero), Yondri Zulfadli, memaparkan bahwa hingga tahun 2026, kapasitas terpasang PLTS Atap di Indonesia telah mencapai sekitar 861,14 MWp dengan dominasi sektor industri sebesar 81%. Untuk menjamin kelancaran sistem dalam jangka panjang, instalasi di pabrik Mulia Industri ini telah melewati audit ketat dari TÜV Rheinland Indonesia.

Berdasarkan evaluasi mereka yang mengacu pada standar SNI IEC 62446-1:2016, instalasi tersebut diakui memiliki tingkat integrasi dan kualitas pemasangan yang tinggi, serta siap beroperasi dengan andal.

error: Content is protected !!