BEKASISATU, KOTA BEKASI — Sebuah oase baru bagi warga Kabupaten Bekasi mulai menggeliat di Desa Hurip Jaya. Danau Ketapang, kini bertransformasi dari sekadar perairan biasa menjadi magnet wisata alternatif yang ramah kantong dan sukses menghidupkan roda ekonomi kerakyatan.
Tanpa memungut biaya tiket masuk—hanya sekadar retribusi parkir—pengunjung sudah bisa menikmati sore dengan latar belakang hamparan persawahan yang asri. Tak heran, kawasan ruang terbuka ini selalu dipadati pelancong setiap sore hari, terutama saat akhir pekan.
Firman (46), warga Kecamatan Setu, menjadikan Danau Ketapang sebagai lokasi pelarian dari penatnya hiruk-pikuk perkotaan. Ia memboyong istri dan anak-anaknya untuk sekadar bercengkerama di pinggir perairan tersebut.
“Kami datang bersama keluarga untuk santai dan mencari udara segar. Suasananya enak, apalagi sore bisa melihat matahari terbenam dengan pemandangan persawahan,” ujar Firman saat ditemui di lokasi, Sabtu (03/10/26)
Kehadiran ratusan wisatawan lokal nyatanya membawa berkah tersendiri bagi warga sekitar. Danau Ketapang sukses menjadi ruang perputaran uang baru.
Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal kini memanfaatkan keramaian pengunjung dengan menjajakan aneka kuliner, minuman, hingga mainan anak. Bagi warga Hurip Jaya, keramaian ini bukan lagi sekadar rekreasi, melainkan urat nadi mata pencaharian baru.
Melihat tingginya antusiasme warga dan perputaran ekonomi yang terjadi, Pemerintah Desa setempat mulai mematangkan gagasan menjadikan kawasan Danau Ketapang sebagai destinasi wisata unggulan berbasis pemberdayaan masyarakat.
Konsep wisata ini menitikberatkan pada penataan area tanpa merusak keaslian alam, di mana warga lokal tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga aktor utama penggerak pariwisata desa.
Meski menyimpan potensi besar, pemerintah setempat memberikan catatan kritis terkait pengelolaan kebersihan kawasan. Lonjakan pengunjung dinilai bisa menjadi pedang bermata dua jika tidak dibarengi dengan manajemen persampahan yang ketat.
“Kita ingin potensi yang ada di Desa Hurip Jaya dapat berkembang menjadi destinasi wisata yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Namun, pengembangannya harus dibarengi dengan kesadaran menjaga kebersihan, ketertiban, dan kelestarian lingkungan,” tegas perwakilan otoritas pemerintah setempat.
Pemerintah juga memberikan imbauan keras kepada para pengunjung agar lebih bertanggung jawab terhadap barang bawaannya.
“Jangan sampai pengunjung datang membawa kebahagiaan, tetapi meninggalkan sampah yang menjadi persoalan bagi kita semua,” tambahnya.
Ke depan, penataan lapak pedagang, penyediaan sarana prasarana penunjang seperti tempat sampah terpadu, dan pengelolaan zonasi taman bermain akan dikebut.
Danau Ketapang membuktikan bahwa pariwisata yang berdampak tidak selalu membutuhkan modal infrastruktur triliunan rupiah; melainkan cukup bermodalkan pelestarian alam, gotong royong warga, dan kesadaran lingkungan yang dijaga bersama.













