Example floating
Example floating
Kota Bekasi

Warga Kota Bekasi Krisis Air, Disperkimtan Akui Sumur Artesis Rusak

Galih
×

Warga Kota Bekasi Krisis Air, Disperkimtan Akui Sumur Artesis Rusak

Sebarkan artikel ini
Foto : Warga di Sekitar TPST Bantargebang Krisis Air Bersih, Minta Pemkot Bertindak (doc.cam)

BEKASISATU, KOTA BEKASI — Pemerintah Kota Bekasi melalui Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Disperkimtan) merespons cepat keluhan krisis air bersih di Kampung Ciketing Sumurbatu, Kelurahan Sumurbatu, Kecamatan Bantargebang.

Perbaikan sumur artesis yang rusak di wilayah tersebut ditargetkan rampung dalam waktu maksimal dua pekan.

Langkah taktis ini diambil menyusul aksi protes warga RT 04 RW 03 pada Minggu (11/10/2026), yang menuntut solusi nyata setelah sumur tak berfungsi selama lebih dari satu bulan.

Kepala Disperkimtan Kota Bekasi, Widayat Subroto Hardi, membenarkan bahwa proses perbaikan fasilitas air bersih tersebut sedang dikebut. Secara teknis, kerusakan dipicu oleh longsornya dinding tanah di dalam sumur yang akhirnya mengubur pompa air.

“Memang sedang proses perbaikan. Waktu itu sumur kedalamannya 120 meter, nah 30 meter ke bawah itu runtuh semua di dalam, sehingga perlu kita kuras dan sekarang sudah proses perbaikan. Mudah-mudahan seminggu dua minggu ini sudah selesai,” ujar Widayat dalam keterangannya, Selasa (13/10/26).

Menurut Widayat, pergerakan dan pergeseran tanah di kedalaman 120 hingga 150 meter kerap menjadi faktor utama terganggunya konstruksi sumur artesis di wilayah tersebut.

Guna menjamin ketersediaan air bersih di masa mendatang, Disperkimtan tak hanya fokus pada perbaikan. Pemerintah berencana membangun fasilitas tambahan bagi warga yang menggantungkan pasokan airnya pada sembilan unit sumur artesis di kawasan Bantargebang.

“Target perbaikan prosesnya sekitar dua minggu ini. Kemudian tahun depan kita coba gali sumur baru lagi,” tuturnya.

Warga Tuntut Bantuan Air Bersih Rutin
Matinya satu-satunya fasilitas sumur artesis ini telah melumpuhkan aktivitas warga. Kekecewaan memuncak hingga warga menggelar aksi bentang spanduk berisi sindiran tajam kepada pemerintah, salah satunya bertuliskan: “Air bersih tak ada, Pemkot Bekasi tutup mata”.

Mengingat lokasi permukiman yang berdekatan dengan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang dan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sumurbatu, akses air bersih menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda.

Perwakilan warga, Rahmat, mendesak pemerintah agar tidak hanya mempercepat perbaikan, tetapi juga menjamin dropping air bersih secara konsisten setiap harinya. Ia menyayangkan bantuan air yang dikirimkan sejauh ini sangat minim.

“Warga menuntut perbaikan sumur artesis. Sudah rusak lebih dari sebulan, dan bantuan air bersih hanya datang sekali. Itu pun cuma satu setengah tangki. Karena itu, selama sumur belum berfungsi, kami minta ada bantuan air bersih yang rutin,” keluh Rahmat.

Ia menegaskan, kelangkaan air ini mematikan roda kehidupan rumah tangga warga sekitar. “Kami tinggal di sekitar tempat pembuangan sampah. Air bersih ini kebutuhan paling dasar. Kalau tidak ada air, bagaimana kami mau memasak, mandi, dan mencuci? Kami hanya minta sumur segera diperbaiki dan bantuan air bersih segera dikirim,” pungkasnya.

error: Content is protected !!