BEKASISATU, KOTA BEKASI – Semangat pelestarian sejarah perjuangan di Kota Bekasi harus sedikit bersabar berbenturan dengan laju pembangunan infrastruktur. Rencana pembangunan Monumen Perjuangan Sasak Kapuk dipastikan tertunda karena adanya tumpang tindih lahan dengan proyek strategis nasional, Mass Rapid Transit (MRT).
Fakta tersebut diungkapkan oleh Anggota DPRD Kota Bekasi yang juga Tokoh Masyarakat Bekasi Utara, Arief Rahman Hakim, di sela-sela peringatan Doa dan Tabur Bunga II Perjuangan Sasak Kapuk yang bertepatan dengan HUT ke-81 Republik Indonesia, Senin (17/08/26).
Pemerintah daerah sejatinya telah menyiapkan alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2026 untuk merealisasikan pembangunan monumen bersejarah tersebut. Namun, evaluasi tata ruang mengharuskan proyek ini dijadwalkan ulang.
“Untuk monumen seharusnya memang sudah kita anggarkan pada tahun 2026. Namun, karena ada proyek nasional yaitu pembangunan MRT, jadi kita tunda terlebih dahulu. Nanti, setelah MRT selesai dibangun, baru kita akan melihat kembali di mana titik lokasi yang pas untuk pembangunan monumen sejarah tersebut,” tegas ARH sapaan akrabnya.
Meski tertunda, ARH optimistis monumen yang didedikasikan untuk mengenang perjuangan heroik pahlawan nasional K.H. Noer Ali bersama pasukan Hizbullah tersebut akan segera berdiri. Pihaknya akan terus mengawal penyesuaian tata ruang agar sejarah perlawanan di Sasak Kapuk tidak tergerus modernisasi kota.
“Kita berharap monumen ini sudah terbangun pada tahun 2027, setelah proyek MRT selesai dibangun,” tambah ARH yang juga Ketua Komisi III DPRD Kota Bekasi.
Pentingnya Bukti Fisik Sejarah Bekasi
Peringatan Doa dan Tabur Bunga II di Sasak Kapuk berlangsung khidmat, dihadiri Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bekasi, pimpinan DPRD, aparatur wilayah, hingga para pelajar. Kehadiran lintas elemen ini menjadi wujud kebanggaan warga Kaliabang, Pondok Ungu, dan Medan Satria.
Bagi ARH, pembangunan infrastruktur transportasi publik tidak boleh mengesampingkan identitas historis daerah. Monumen Sasak Kapuk dinilai krusial sebagai medium edukasi visual yang nyata bagi generasi muda.
“Hal ini harus terus diingat. Dengan adanya monumen, cerita dan sejarah tidak lagi hanya dilihat melalui video atau gambar, tetapi mereka bisa merasakan secara langsung jejak betapa heroiknya perjuangan para pahlawan bangsa yang ada di Kota Bekasi ini,” papar ARH
Ia juga berpesan agar agenda peringatan sejarah lokal seperti ini terus masuk dalam kalender rutin pemerintah dan masyarakat.
“Sekalipun kami nanti sudah menua, generasi-generasi penerus bangsa ini harus terus ada untuk menyelenggarakan kegiatan serupa,” pungkasnya.













