BEKASISATU, KOTA BEKASI – Keengganan generasi muda di Kota Bekasi untuk terjun menjadi kader Posyandu kini menjadi alarm bahaya bagi sektor pelayanan kesehatan dasar. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bekasi secara tegas memperingatkan potensi krisis regenerasi kader akibat minimnya jaminan kesejahteraan dan apresiasi dari pemerintah daerah.
Ketua Komisi IV DPRD Kota Bekasi, Adelia, mengungkapkan bahwa dedikasi luar biasa para kader dalam mencegah stunting dan menjaga kesehatan ibu serta anak belum diimbangi dengan dukungan yang proporsional dari Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi. Hal ini mencakup ketersediaan insentif bulanan, program pelatihan, hingga penghargaan sosial.
“Di Hari Kartini ini kita harus melihat bahwa banyak perempuan hebat yang bekerja nyata di tengah masyarakat, salah satunya kader Posyandu. Mereka adalah pejuang kesehatan. Jika pemerintah tidak serius memberikan dukungan, maka regenerasi kader akan semakin sulit,” ujar Adelia dalam keterangannya, Kamis (23/04/26).
Adelia yang juga memimpin DPD KNPI Kota Bekasi ini menyoroti fenomena apatisme pemuda terhadap kegiatan sosial kemasyarakatan. Menurutnya, wajar jika perempuan muda saat ini kurang berminat meneruskan tongkat estafet kepengurusan Posyandu. Mereka melihat langsung bagaimana para pendahulunya kerap bekerja mandiri tanpa sokongan nyata dari instansi terkait.
Padahal, ujung tombak dari status kota layak anak dan jaminan mutu kesehatan lingkungan berada di tangan kader Posyandu tingkat RT/RW.
“Kalau kita ingin Kota Bekasi memiliki kualitas kesehatan masyarakat yang baik dan mempertahankan predikat kota ramah anak, maka kader Posyandu harus diperkuat. Jangan sampai mereka merasa bekerja sendiri tanpa dukungan,” tegas wakil rakyat yang membidangi urusan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat tersebut.
Melalui momentum refleksi Hari Kartini, Adelia mendesak Pemkot Bekasi untuk segera merumuskan kebijakan afirmatif yang berpihak pada nasib kader Posyandu. Langkah konkret yang dituntut antara lain peningkatan nilai insentif, penyelenggaraan pelatihan kapasitas berkelanjutan, serta memfasilitasi ruang bagi kader-kader baru.
Baginya, merepresentasikan semangat Kartini di era modern bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan wujud nyata keberpihakan pemerintah terhadap perempuan yang berjibaku menjaga kesehatan masyarakat akar rumput di Kota Bekasi.













