BEKASISATU, KOTA BEKASI – Kasus gangguan kesehatan mental pada remaja usia sekolah kini menjadi perhatian serius berbagai pihak. Merespons tantangan tersebut, Puskesmas Bintara Jaya mengambil langkah proaktif dengan menggelar sosialisasi ‘Pertolongan Pertama Pada Luka Psikologis’ (P3LP).
Kegiatan yang dilangsungkan di aula Puskesmas Bintara Jaya ini menyasar para guru pembina Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) tingkat SMP dan SMA sederajat di seluruh wilayah kerja puskesmas Bintara Jaya, Kecamatan Bekasi Barat.
Plt. Kepala Puskesmas Bintara Jaya, Dedy Damhudi, memaparkan bahwa peran guru di era modern tidak lagi sekadar mentransfer ilmu akademis di dalam kelas, melainkan juga bertindak sebagai garda terdepan dalam memantau dinamika psikologis para siswanya.
“Pemahaman tenaga pendidik terhadap perilaku, cara pengambilan keputusan, dan perkembangan sosial remaja sangatlah penting. Semua dinamika ini berimplikasi langsung terhadap kelancaran pendidikan dan kondisi kesehatan jiwa remaja selama berada di lingkungan sekolah,” ujar Dedy Damhudi saat memberikan arahan, Rabu (04/11/26).
Menurut Dedy, deteksi dini merupakan instrumen paling vital dalam menangani potensi gangguan kejiwaan pada anak usia sekolah. Ia meyakini, semakin awal sebuah luka psikologis atau gangguan mental terdeteksi, maka intervensi medis maupun konseling yang diberikan akan jauh lebih efektif.
Hal ini menjadi kunci utama untuk menjamin peningkatan kualitas hidup siswa di masa depan.
Untuk mempermudah identifikasi, Dedy menjabarkan sejumlah indikator spesifik yang wajib dicermati secara saksama oleh para guru UKS.
“Ada beberapa poin penting yang harus dicermati tenaga pendidik saat berinteraksi dengan siswa. Mulai dari perubahan kebiasaan sehari-hari, perubahan perilaku yang tiba-tiba, serta berapa lama dan seberapa sering durasi maupun frekuensi perubahan tersebut terjadi pada anak,” tegas Dedy.
Lebih lanjut, ia juga meminta para guru untuk selalu mengukur kewajaran sikap seorang siswa jika dikomparasikan dengan individu lain pada tingkatan usia yang sama.
Tenaga pendidik juga didorong untuk mewaspadai adanya keluhan fisik atau gangguan fungsi tubuh yang tidak berdasar pada penyakit medis, serta menelusuri sejauh mana pengaruh lingkungan pergaulan berdampak pada mental anak.
Melalui program sosialisasi ini, pihak puskesmas berharap terbentuknya sinergi yang kuat antara sektor kesehatan dan instansi pendidikan dalam menciptakan ruang belajar yang aman secara mental.
“Harapan kami dari pertemuan ini, para tenaga pendidik dapat lebih peka dan benar-benar memahami apa yang sebenarnya menjadi akar permasalahan bagi anak di usia sekolah. Dengan kepekaan tersebut, kita bisa mencegah dampak yang lebih buruk,” tutupnya.













