BEKASISATU, KOTA BEKASI – Keluhan kaki terasa berat, bengkak setelah berdiri lama, hingga munculnya varises sering kali dianggap sepele oleh sebagian masyarakat. Padahal, kondisi tersebut bisa jadi merupakan tanda awal dari gangguan sirkulasi pembuluh darah yang dikenal sebagai Chronic Venous Insufficiency (CVI) atau insufisiensi vena kronis.
Penyakit ini tidak bisa dipandang sebelah mata karena mengancam sekitar 5 hingga 30 persen populasi orang dewasa. Angka kejadiannya pun terus meningkat seiring bertambahnya usia. CVI terjadi ketika katup pembuluh balik (vena) pada tungkai kaki gagal menutup dengan sempurna. Akibatnya, darah tertahan, aliran balik menuju jantung menjadi tidak optimal, dan tekanan di dalam vena melonjak naik.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Intervensi dari Siloam Hospitals TB Simatupang, dr. Emanoel Oepangat, Sp.JP(K), FIHA, mengingatkan bahwa varises sering kali menjadi keluhan fisik yang tampak dari CVI.
“Yang perlu kita nilai bukan hanya tampilannya. Yang lebih penting adalah apakah ada gangguan aliran balik vena, apakah pasien punya keluhan, dan apakah sudah ada perubahan pada kulit,” tegas dr. Emanoel.
Lebih lanjut ia menjelaskan, jika kerusakan katup vena ini dibiarkan memburuk, pasien dapat mengalami pembengkakan parah, nyeri kronis, perubahan warna serta tekstur kulit, bahkan timbulnya luka atau ulkus di sekitar pergelangan kaki.
Kabar baiknya, penderita CVI kini memiliki opsi penanganan medis modern yang minim rasa sakit. Dunia kedokteran menghadirkan solusi berupa Endovenous Laser Ablation (EVLA), sebuah prosedur minimal invasif untuk mengatasi pembengkakan dan kerusakan vena.
Prosedur EVLA bekerja dengan cara menyalurkan energi panas melalui serat laser ke dalam vena yang bermasalah. Tindakan yang dipandu oleh teknologi ultrasonografi ini bertujuan untuk menutup vena yang rusak, sehingga aliran darah akan secara otomatis dialihkan melalui jaringan pembuluh vena lain yang masih sehat.
Menjelang peringatan World Heart Day pada 29 September 2026, edukasi mengenai kesehatan pembuluh darah menjadi sangat krusial. Hospital Director Siloam Hospitals TB Simatupang, Dr. Dewi Wiguna, M.Sc, menyebutkan bahwa kesehatan jantung saling berkaitan erat dengan kelancaran aliran darah di seluruh tubuh.
“Kami berharap melalui edukasi ini, masyarakat semakin memahami bahwa teknologi medis digunakan berdasarkan kebutuhan klinis masing-masing pasien, bukan semata-mata karena teknologinya tersedia. Teknologi yang baik adalah teknologi yang digunakan secara tepat, aman, dan memberikan manfaat nyata bagi pasien,” pungkas Dr. Dewi.
Selain penanganan medis, masyarakat yang memiliki faktor risiko seperti obesitas, kehamilan, genetik, atau kebiasaan berdiri dan duduk terlalu lama diimbau untuk lebih waspada. Langkah pencegahan seperti rutin beraktivitas fisik, menjaga berat badan ideal, dan meminimalisir posisi statis yang terlalu lama sangat dianjurkan demi menjaga kesehatan vena tungkai.













