BEKASISATU, KOTA BEKASI – Sebuah pemandangan kontras tersaji di SDN Jatiasih 4, Kota Bekasi, Sabtu (14/02/26). Di tengah kemeriahan acara Market Day, isak tangis justru pecah saat puluhan wali murid harus melepas Kepala Sekolah mereka, Kasmiroh, S.Pd.I, yang resmi dimutasi ke wilayah Pondok Gede.
Bukan tanpa alasan para orang tua murid merasa kehilangan. Selama empat tahun menjabat, Kasmiroh dinilai sukses mematahkan stigma mahalnya biaya kegiatan sekolah. Ia meninggalkan legasi manajemen sekolah yang transparan: banyak kegiatan, nol pungutan.
“Selama Bu Kasmiroh memimpin, kami sebagai orang tua merasa tenang. Banyak kegiatan sekolah, tapi tidak pernah ada beban biaya yang memberatkan,” ungkap salah satu wali murid dengan mata berkaca-kaca di lokasi.
Manajemen Efisiensi, Bukan Beban Wali Murid
Rotasi kepemimpinan di lingkungan Dinas Pendidikan memang hal lumrah. Kasmiroh kini ditugaskan memimpin SDN Jatiwaringin. Namun, jejaknya di Jatiasih membekas karena keberaniannya mengoptimalkan anggaran tanpa ‘nodong’ orang tua.
Para guru mengakui, di bawah komando Kasmiroh, kultur sekolah berubah drastis. Kegiatan seperti peringatan hari besar agama, upacara nasional, hingga kemah Pramuka tetap berjalan meriah namun dengan strategi efisiensi anggaran sekolah.
“Dari kegiatan keagamaan, upacara nasional, sampai perkemahan Pramuka, semua berjalan tanpa membebani orang tua. Bu Kasmiroh selalu menekankan kreativitas dan gotong royong,” ujar salah seorang tenaga pengajar SDN Jatiasih 4.
Ia menambahkan, sang kepala sekolah selalu menanamkan prinsip bahwa keterbatasan dana bukan alasan untuk mematikan kreativitas siswa, dan solusi dana tidak boleh serta-merta dibebankan kepada wali murid.
Pesan Terakhir: Ini Kerja Bersama
Menanggapi respon emosional dari warga sekolah, Kasmiroh tetap merendah. Dalam pidato perpisahannya, ia menolak disebut sebagai satu-satunya aktor keberhasilan tersebut. Menurutnya, sekolah yang kondusif dan religius terbentuk karena teamwork yang solid.
“Terima kasih atas kebersamaan dan dukungan selama ini. Semua capaian sekolah adalah hasil kerja kita bersama, bukan individu,” ucap Kasmiroh di hadapan guru dan siswa.
Kepergian Kasmiroh menjadi “alarm” sekaligus standar baru bagi kepemimpinan sekolah di Bekasi. Bahwa tolak ukur keberhasilan kepala sekolah bukan hanya pada deretan piala, melainkan pada kemampuan menghadirkan pendidikan berkualitas tanpa membuat dompet orang tua menjerit.













