Example floating
Example floating
Headline

Longsor Wisata Hutan Bambu: Pengelola Mengeluh Hingga Izin Lahan Disorot

Galih
×

Longsor Wisata Hutan Bambu: Pengelola Mengeluh Hingga Izin Lahan Disorot

Sebarkan artikel ini
Foto : Kondisi Wisata Bambu Kota Bekasi Sejak Tergerus Kali Bekasi (doc.cam)

BEKASISATU, KOTA BEKASI – Insiden tanah longsor yang meluluhlantakkan sebagian area destinasi Wisata Hutan Bambu, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, mendapat sorotan dari Pemerintah Kota Bekasi.

Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto, menyinggung soal posisi bangunan wisata yang berada di area terlarang, yakni garis sempadan sungai Kali Bekasi.

Meski mengaku belum menerima laporan kerusakan secara komprehensif, Tri menegaskan bahwa secara aturan, area bantaran sungai seharusnya steril dari bangunan permanen maupun semi-permanen demi keselamatan.

“Ya nanti kita lihat saja, saya belum dapat laporannya secara komprehensif terkait dengan kondisi yang ada. Tapi, kalau dilihat secara sekilas mereka berada di bantaran sungai Kali Bekasi,” ujar Tri Adhianto saat dikonfirmasi, Minggu (15/02/26).

Tri menjelaskan, regulasi terkait garis sempadan sungai (GSS) saat ini sangat ketat. Hal ini menjadi catatan penting pemerintah dalam mengevaluasi insiden longsor yang terjadi akibat pengosongan air Kali Bekasi tersebut.

“Memang sebetulnya tidak diperbolehkan untuk dilakukan pembangunan, sehingga pembangunan pun tidak boleh. Karena itu berada pada garis badan sungai. Makanya kita lihat betul (nanti solusinya),” tegasnya.

Pengelola Tagih Langkah Konkret

Di sisi lain, respons normatif pemerintah ini berbanding terbalik dengan harapan pengelola wisata di lapangan. Ketua Zona 1 Pengurus Wisata Hutan Bambu, Emar Maryasi, justru mengeluhkan lambannya gerak dinas terkait dalam membantu penanganan pasca-bencana.

Menurut Emar, hingga saat ini puing-puing sisa longsor masih berserakan dan belum ada sentuhan bantuan alat berat atau tenaga dari Pemkot Bekasi untuk pembersihan.

“Kita butuh bantuan untuk pembersihan bambu-bambu yang masih berantakan di tepian sungai. Lantaran turut semrawut. Mungkin sisa-sisa bambunya masih bisa kita manfaatkan,” keluh Emar.

Ia berharap adanya sinergi antar-dinas untuk mempercepat pemulihan ikon wisata Kota Bekasi tersebut, mengingat kerusakan yang terjadi cukup masif dan tidak mungkin ditangani secara swadaya.

Operasional Ditutup Total

Seperti diketahui, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bekasi mengambil langkah tegas dengan menutup total operasional Wisata Hutan Bambu hingga waktu yang belum ditentukan.

Kabid Kepariwisataan Disparbud, Budiman, menyebut risiko longsor susulan masih sangat tinggi.
“Kita tutup dulu wisatanya. Karena kita belum tahu akan datang air lagi, sementara ini belum ada penanganan. Kalau ada air kiriman dan pintu air dibuka, ini masih bisa sliding lagi,” kata Budiman.

Berdasarkan data lapangan, kerusakan mencakup area sepanjang 200 meter dengan gerusan tanah sedalam 10 meter. Fasilitas yang hilang tersapu arus meliputi jalan akses utama, saung gazebo, toilet umum, dapur warga, hingga area budidaya cacing.

error: Content is protected !!